SOSOK PRESIDEN 2014

1.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan mantan Sekjen PBB Kofi Anan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (4/3). Kofi Anan berkunjung untuk memberikan “Presidential Lecture” berjudul “Challenges for Leaders in a Multipolar World” yang dihadiri oleh Presiden SBY, Wapres Boediono, para Menteri KIB II, dan anggota Wantimpres.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, merupakan sosok yang penting bagi dunia karena telah memberi sumbangan besar selama 10 tahun menjabat posisi penting di organisasi internasional itu. Hal tersebut disampaikan Presiden saat menerima kedatangan Kofi Annan yang menyampaikan paparan dan pandangannya dalam Presidential Lecturer di Istana Negara Jakarta, Kamis [04/03] pagi. “Ia memberikan perhatian sungguh pada hak azasi manusia, MDGS, climate change(perubahan iklim, red) , resolusi konflik, kontra terorisme dan atensi dalam misi perdamaian dunia. Karena itu tepat bila beliau mendapat penghargaan nobel perdamaian,” kata Presiden.
Kepala Negara menjelaskan peran Kofi Annan yang merupakan Sekjen PBB ke-7 sejak PBB berdiri pada 1945 juga berperan penting bagi Indonesia dalam sejumlah kesempatan termasuk saat penanganan bencana tsunami 2004 lalu. “Saya teringat saat beliau menjabat sekjen PBB hadir memenuhi undangan saya, 10 hari setelah tsunami dan menyelenggarakan tsunami summit datang dari New York dan ikut membantu indonesia,hadir juga saat jadi tuan rumah KAA kedua, pada mei 2005. Hubungan (kita-red) dengan Bapak Kofi Annan berlangsung sejak lama,” kata Presiden.
Dalam sesi yang dihadiri oleh Wapres Boediono,seluruh menteri kabinet Indonesia Bersatu, pejabat negara tersebut, Kepala Negara juga menyampaikan kepada Kofi Annan bahwa saat ini Indonesia tak hanya melakukan reformasi namun juga telah melakukan tranformasi ke arah yang lebih baik. “Indonesia berada dalam proses tranformasi, bukan hanya reformasi, setelah krisis. Agenda nasional kami melanjutkan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan, kurangi kemiskinan, menambah lapangan pekerjaan dan mengangkat derajat hidup. kami ingin demokrasi makin matang,” tegas Presiden.
Presiden menambahkan,”Indonesia sekarang ini akan terus jaga dan meningkatkan peran internasional antara lain aktif dalam kerja sama kawasan, aktif peace keeping(pasukan pemelihara perdamaian PBB, red) bagian dalam global ekonomik. Kami gigih untuk bersama negara lain menangani perubahan iklim dan pemanasan global. Dan juga kerja sama dengan dunia perangi ancaman terorisme.”
Pemimpin Berkarakter Diperlukan Saat Ini. Mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan menyatakan perlunya sosok pemimpin yang memiliki karakter kuat untuk menghadapi sejumlah tantangan global saat ini, baik masalah ekonomi maupun perubahan lingkungan. “Tidak ada keraguan contoh kepemimpinan sangat dibutuhkan. Itu diperlukan dalam menghadapi berbagai permasalahan seperti konflik, bencana alam, perubahan iklim, dan terorisme,” kata Annan dalam “Presidential Lecturer” di Istana Negara Jakarta, Kamis [04/03] siang.

Annan yang menyampaikan pemikiran tentang tantangan kepemimpinan dalam dunia yang multipolar menyatakan, saat ini kemampuan kepemimpinan sangat diuji untuk menyelesaikan masalah-masalah yang semakin kompleks. “Kita harus adaptasi dengan cepat tantangan yang ada. Contoh kepemimpinan saat ini adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara lintas negara. Ini membutuhkan peningkatan kapabilitas nasional, dan pemimpin yang dimiliki dapat dari proses demokrasi yang baik dan adanya penegakan aturan hukum yang baik,” katanya.
Dalam pemaparan selama 45 menit di hadapan sejumlah undangan yang hadir di Istana Negara tersebut, Kofi Annan mengambil contoh penanganan krisis ekonomi global dan perubahan iklim. “Saya percaya perubahan iklim merupakan tantangan besar dan diperlukan pemimpin yang memiliki kualitas. Pemimpin harus dapat menciptakan sebuah kebijakan yang tepat dan radikal,” katanya.
Beberapa kali, pria asal Ghana yang menjadi Sekjen PBB ke-7 menggantikan Butros-Butros Gali, dalam kesempatan itu menyampaikan pujian kepada Indonesia yang mampu menghadapi krisis ekonomi global dan mencegah dampak negatifnya bagi dalam negeri serta aktif dalam pembicaraan perubahan iklim. “Saya beri penghargaan atas inisiatif Indonesia, perubahan iklim harus menjadi salah satu keputusan puncak politik di sebuah negara saat ini,” katanya.
Ia menambahkan, kirisis ekonomi global tidak bisa diatasi hanya oleh satu negara, semua pihak harus bergerak dari pola pikir lama bahwa keamanan nasional semata bisa selesaikan masalah jadi harus ada aksi koletif untuk atasi tantangan global. “Indonesia telah menunjukkan komitmen untuk mendorong hal tersebut, menunjukkan langkah yang harus diambil dalam kondisi multipolar ini di mana perubahan bisa terjadi kapan saja,” katanya. Ia menyatakan, saatnya kini mengubah sudut pandangan yaitu mendorong antara aspek keamanan dalam negeri dan pembangunan harus bersamaan namun kesejahteraan tidak akan hadir tanpa adanya penghormatan pada hukum.
Sementara itu, Presiden Yudhoyono menanggapi pandangan Kofi Annan mengatakan memang tidak mudah mencapai kata sepakat dalam berbagai isu internasional terlebih tentang langkah pencegahan pemanasan global dan perubahan iklim. “Saya rasakan dalam lima tahun ini saya punya kesimpulan kecil, katakanlah sulitnya capai ‘new agreement’ dalam penanganan ‘climate change’, seperti di Copenhagen, New York, Apec, Asem dan forum lain. ini cukup fundamental karena belum ada keseimbangan antara ‘national intrest’ dengan ‘global intrest’,” kata Presiden.
Sementara tentang restrukturisasi kelembagaan PBB, Presiden menilai bila penilaian kriteria negara anggota tetap Dewan Keamanan PBBB adalah negara yang mewakili berbagai unsur maka Indonesia diharapkan bisa memenuhinya. “Bila saya boleh menambahkan, Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar, berpenduduk keempat terbesar di dunia, terbesar di Asia Tenggara, dan ada tiga akar peradaban yaitu Islam, Barat dan Timur. Barangkali bila suatu saat ada reformasi yang lebih merepresentasikan masyarakat dunia, harapan kami Indonesia patut dipertimbangkan,” kata Presiden. Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden Boediono, sejumlah menteri dan sejumlah pejabat negara.

2.
SOEKARNO
Falsafah gotong royong Soekarno pantas diacungkan jempol, demikian pater Paul de Blot SJ dalam wawancara di atas. Akankah orang Indonesia mencari sosok presiden baru yang mirip Soekarno di tahun 2014? Soekarno lahir tanggal 6 Juni 1901 di Blitar sebagai Kusno Sosrodihardjo, ia beragama Islam. Selain sebagai proklamator dan presiden pertama Indonesia, Soekarno juga mewariskan Pancasila:
1. Ketuhanan yang maha esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Kebangsaan
4. Kedaulatan Rakyat
5. Keadilan Sosial

Soekarno mencintai seni dan keindahan, tak heran 9 istrinya semua cantik belia. Istri pertama Soekarno adalah Oetari, putri Haji Omar Said Tjokroaminoto. Soekarno menikah untuk kedua kalinya di tahun 20-an di Bandung, dengan Inggit Ganarsih, ibu indekosnya. Ketika Soekarno dibuang ke Bangkahulu pra Perang Dunia ke II, Soekarno berpacaran dengan Fatmawati dan kemudian menikah. Berbeda dengan dua pernikahan terdahulunya yang tanpa anak, pernikahan Soekarno dengan Fatmawati menghasilkan lima anak, yaitu Guntur, Megawati, Rakhmawati, Sukmawati dan Guruh. Sesaat setelah Guruh lahir, Bung Karno menikahi Hartini dan memboyongnya ke Bogor. Dalam rangka membina hubungan persahabatan Indonesia-Jepang dan realisasi bantuan pampasan perang, sekitar tahun 60-an Soekarno pergi beberapa kali ke Tokyo dan di sana bertemu dengan Naoko Nemoto. Naoko Nemoto menjadi istri ke-5 Soekarno dengan nama Ratna Sari Dewi. Dari pernikahan itu lahir Kartika Sari. Tak lama kemudian Soekarno menikahi Haryati (istri ke-6), Yurike Sanger (istri ke-7), Kartini Manopo (istri ke-8) dan Heldy Jafar (istri ke-9).
Menurut Soekarno, demokrasi Indonesia tidak boleh memakai voting, melainkan musyawarah sampai tercapai mufakat. Di tahun 1955 Soekarno berpendapat, tidak baik bila Washington dan Moskow terus berperang dingin, lebih baik bermusyawarah mufakat ala Indonesia. Untuk itu Soekarno mengundang Chou En Lai (China), Jawaharlal Nehru (India), Abdel Gamal Nasser (Mesir), Pangeran Norodom Sihanouk (Kamboja) dll. dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung. Setahun kemudian Soekarno merangkul Marsekal Jozef Broz Tito (Yugoslavia). Konferensi Asia-Afrika yang ke-2 di tahun 1961 diselenggarakan di Belgrado, Yugoslavia. Peserta Konferensi Asia-Afrika begitu terpesona dengan Soekarno sehingga menerima falsafah Musyawarah Mufakat sebagai falsafah Gerakan Non-Blok. Jawaharlal Nehru (India) dan presiden Kwame Nkrumah (Ghana) kemudian diutus ke Moskow untuk mengkuliahi Nikita Chroesjtsjov perihal “Musyawarah Mufakat”, sedangkan presiden Modibo Keita (Mali) dan presiden Soekarno (Indonesia) diutus ke Washington untuk mengkuliahi presiden John Fitzgerald Kennedy falsafah “Musyawarah Mufakat” itu.

Namun Soekarno yang perkasa di Asia Afrika, bahkan merasa berhak mengkuliahi presiden Amerika perihal falsafah Musyawarah Mufakat, ternyata tidak berdaya di dalam negeri sendiri. Di tahun 1965, Soekarno dipaksa menyerahkan kekuasaannya ke pada Soeharto, seorang jenderal Angkatan Darat yang tidak terkesan sama sekali dengan konsep “Musyawarah Mufakat” itu. Bak jatuh tertimpa tangga, Soekarno bukan saja tersingkir di arena politik Indonesia, beliau bahkan juga di-delete dari Gerakan Non-Blok yang dibidaninya. Pelopor pen-delete-an Soekarno di Gerakan Non-Blok adalah Fidel Castro. Di tahun 1980, Konferensi Non-Blok diselenggarakan di Havana, Kuba setelah Fidel Castro memperlihatkan ambisinya menjadi Ketua Gerakan Non-Blok. Willem Oltmans, seorang Belanda penulis buku “Chaos in Indonesië” yang menghadiri pertemuan Asia Afrika itu hanya melihat foto-foto Nehru, Tito, Nasser dan Nkrumah dipajang di ruang konferensi, dengan teks “Pendiri Gerakan Non-Blok”. Di mana foto Soekarno? Foto Soekarno tidak dipajang, nama Soekarno pun tidak pernah disebut lagi sebagai pendiri Gerakan Non-Blok.

3.
BARACK HUSSEIN OBAMA
Atau barangkali orang Indonesia terpesona oleh sosok Barack Hussein Obama seperti disebut oleh pater Paul de Blot dalam teks penutup di atas, dan mencari sosok presiden Indonesia 2014 yang mirip Barack Obama? Barack Hussein Obama adalah presiden Amerika Serikat ke-44. Ia lahir di Honolulu, Hawai, tanggal 4 Agustus 1961. Barack Obama beragama Protestan. Ucapannya yang terkenal adalah “What Washington needs is adult supervision.” Tanggal 20 Januari 2009, Barack Hussein Obama dilantik sebagai presiden AS berkulit hitam pertama, disaksikan milyardan manusia sejagad raya.
Masa muda Barack tidak ringan. Setelah ayahnya, Barack Hoessein Obama sr. (Kenya) bercerai dari ibunya, An Dunham (Amerika), Barack tinggal bersama ibu dan kakek neneknya. Ketika ibunya menikah dengan Lolo Soetoro (Indonesia), Barack hijrah ke Jakarta. Di Jakarta lahir adik tirinya, Maya Soetoro. Empat tahun kemudian ayah tiri dan ibu kandungnya juga bercerai. Barack kembali ke Honolulu dan kembali tinggal bersama kakek neneknya. Obama belajar serius di Harvard University. Ketika Barack pindah ke Chicago, ia berjumpa dengan Michelle Robinson dan menikahinya di tahun 1992. Di Chicago itu Barack berkenalan dengan banyak politikus, dan ambisinya untuk merambat ke atas mulai terpupuk. Di tahun 1996 Barack terpilih sebagai anggota senat di Illinois dan di tahun 2004 terpilih sebagai senator Illinois. Ganjalan terbesar bagi Barack Obama dalam upayanya menghuni Gedung Putih adalah Hillary Clinton. Semua orang percaya bahwa Barack harus menunggu 4 tahun lagi sebab kini giliran Hillary Clinton menjadi presiden AS. Namun Barack Obama tokh berhasil mencundangi HIllary dalam perebutan nominasi Partai Demokrat, dan akhirnya juga mencundangi John McCain dari Partai Republik dalam pemilihan presiden final.
Di Timur Tengah dan Afrika, inaugurasi Barack Obama mendapat perhatian penuh. Di desa Kogelo di Kenya, domisili oma dari Obama, jumlah penduduknya tiba-tiba berlipat sepuluh, dari 300 warga menjadi 3000 warga, semua tertarik pada pesta yang diadakan untuk menyambut inaugurasi Barack Obama. Latar belakang Kenya dan Indonesia rupanya membuat Obama menjadi sosok yang berwawasan global. Wawasan global itu ternyata mampu merenggangkan hubungan tradisional Uni Eropa dengan Amerika Serikat. De Telegraaf 6 Februari 2010 menulis sbb. “Amerika Serikat di bawah Barack Obama meninggalkan Uni Eropa, dan mendekati China, India dan Brasilia.” Contohnya, Obama membatalkan pertemuan rutin tahunannya dengan Uni Eropa karena ingin berbicara dengan China, India dan Brasilia. Di Kopenhagen bulan Desember 2009 y.l., ketika Uni Eropa sibuk menentukan sikap menghadapi Climate Change, Barack Obama bersama China, India dan Brasilia malah membuat konferensi pers sendiri. Barack Obama dan Wen Jiabao dari China bahkan sudah meninggalkan Kopenhagen sebelum penutupan resmi.

Yang menarik di-studibanding-kan adalah ini: pendeta berkulit hitam Jesse Louis Jackson dua kali mencalonkan diri sebagai presiden AS dari Partai Demokrat, di tahun 1984 dan 1988, dan dua-duanya gagal. Jesse dikenal sebagai tokoh “pembela kulit hitam dan sering memerangi kulit putih.” Sebaliknya Barack Obama sekali maju langsung menjadi presiden, ini karena Barack Obama tidak pernah membela warga AS berkulit hitam, apalagi memerangi warga AS berkulit putih. Barack Obama selalu berjuang untuk warga AS keseluruhan, baik hitam, putih, kuning mau pun coklat. Karena itulah Barack Obama mendapat banyak suara dari pencoblos AS berkulit putih, sedangkan Jesse Jackson dijauhi oleh warga AS berkulit putih karena dianggap rasistis.

4.
Qul al haqqa walau kana murran “Katakanlah yang benar walaupun pahit” pesan suci inilah yang sudah menjadi barang langka di negeri pertiwi ini. Tulisan ini berangkat dari fenomena keberlangsungan tata pemerintahan, berlangsungnya proses berbangsa dan bernegara dan hubungan pemimpin dan rakyatnya serta kepatuhan, ketundukan dan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya. Saya mengambil tema tulisan ini dengan mengangkat satu kata berkonotasi baik (baca: kejujuran) tetapi posisinya dihadapkan dengan konotasi baik pula (baca: keindahan). Padahal dua kata tersebut adalah sama-sama berkonotasi baik.
Tidak lazimnya mengangkat atau mengambil padanan kata dalam posisi berhadapan dengan sama-sama konotasi baik. Kebanyakan tulisan mengangkat atau mengambil kata dengan kata positif dihadapkan dengan negatif misalnya kejujuran dengan kemunaikan, kebaikan vs kebatilan atau seterusnya.
Padanan kata yang saya ambil ini terinspirasi dari fenomena kejadian yang berlangsung di masyarakat kita dalam titik masalah mengenai kepercayaan rakyat dalam menilai pemimpinnya itu didasarkan pada senang atau tidak senang, suka atau tidak suka (baca: benci).
Masyarakat mematok rasa kepercayaan, serta menganggap seorang pemimpin (baca: presiden) itu dianggap mampu dan dinilai bisa (membawa bangsa dan negara menuju yang lebih baik) itu masih berdasarkan pertimbangan emosional. Pertimbangan persepsi publik masih melihat pada batas-batas kulit seperti penampilan fisik, kesantuan kelembutan dalam bertutur kata, intonasi yang runut dan tersusun rapi. Dan terlihat betul-betul menguasai persoalan dan pemetaannya. Kemudian gaya bicaya yang tidak meledak-ledak adalah sesuatu yang dianggap modal dan kepercayaan seseorang mampu memimpin bangsa dan negara republik Indonesia.
Persepsi publik masih belum menyentuh ke substansi kriteria atau karakteristik persyaratan seorang pemimpin yang layak sekaligus mampu membawa bangsa dan negara ke arah perubahan dan kemajuan. Saya beranggapan persepsi masyarakat terhadap pejabat adalah masih dalam posisi tak pantas (baca kurang menyenangi) bila punya gaya komunikasi politik blak-blakan. Tanpa tedeng-tedeng. Berkata A bilamana A dan berkata B bilamana B. Publik menganggap demikian. Kepatuhan, kebaikan dan kemampuan seorang pemimpin dinilai hanya dari kacamata fisik (baca: kulit). Publik lupa, bahwa rekam jejak sang tokoh adalah kunci utama kemampuan seorang bisa terukur. Karena perjalanan yang panjang adalah rekaman kiprah yang mampu mengungkap keadaan seseorang (baca: tokoh, pemimpin). Perjalanan panjang adalah potret nyata yang mampu fakta kelebihan dan kekurangan seorang tokoh.
Potret bacaan demikian bagi masyarakat belum dilacak. Memang banyak sebab yang membuat demikian. Padahal sosok tokoh atau pemimpin yang jadi-jadian dengan betulan adalah sesuatu yang gamblang dan dapat dipetakan. Kuncinya adalah mengurai latar belakang kiprahnya.
Persepsi publik memang sangat dipengaruhi oleh trend zaman. Pergerakan momentum beserta variasinya sangat diditentukan oleh arah dan gerak psikologi publik dalam zamannya. Zaman penjajahan adalah zaman heroik. Hingar-bingar perlawanan terhadap kolonial adalah sebuah sikap dan semangat zaman saat itu. Dibutuhkan sosok pemimpin yang punya tabiat perlawanan. Butuh suara yang lantang dan tanpa tedeng-tedeng. Dan dibutuhkan pula sosok diplomat yang ulung serta dekat dengan rakyat. Itulah yang dimiliki oleh Ir. Soekarno. Sang orator ulung, berwibawa dan punya pendirian kuat adalah sosok yang tepat dipilih rakyat.
Tend masa orde baru adalah masa tenang. Hingar-bingar perlawanan terhadap penjajahan sudah tidak terjadi lagi saat itu. Suasananya butuh akan ketentraman dan kelayakan dalam menjalani kehidupan. Masa Jendral Soeharto terpilih adalah adalah sesuatu yang tepat saat itu. Masyarakat butuh realisasi dan bukti. Sedikit bicara dan banyak bekerja. Sandang (pakaian), papan (tempat tinggal) dan pangan (sembako), adalah gelora teriakan rakyat. Ketertiban, ketentraman dan keamanan serta kenyamanan hidup adalah impian yang ingin direngkuh rakyat pasca penjajahan. Suatu yang bisa di jawab oleh jendral Soeharto. Dan tentu barangkali jawaban itulah yang membuat Soeharto bisa bertahan menduduki kursi RI 1 hingga 32 tahun berkuasa.
Akan tetapi 32 tahun adalah waktu yang panjang dan lama. Kekuasaan dengan wataknya yang bisa menindas dan korup menjadi nyata bila diduduki dalam waktu yang lama. Hal itulah yang terjadi dan tergoda oleh sang pemimpin orde baru. 1998 adalah tahun pelengseran kekuasaan Soeharto oleh kekuatan rakyat dan gerakan mahasiswa yang menginginkan reformasi total akan keberlangsungan pemerintahan ke depan.
Sesuatu yang logis dan punya korelasi antara keinginan terhadap ketentraman, keyamanan dan keamanan di dalam negeri dengan gaya komunikasi politik yang dilakukan penguasa. Masa orde lama adalah masa penjajakan dan kemerdekaan. Dibutuhkan sosok yang menjadi simbol perlawanan dengan sifat dan karakter yang lantang, blak-blakan dan teguh pendirian (baca: tegas dan berani). Sedangkan masa orde baru dibutukan sosok yang ramah, santun sedikit bicara karena sifat demikian sesuai dengan gaya komunikasi Soeharto.
Trend zaman selanjutnya adalah keinginan reformasi total dalam berbagai bidang, baik sistem ketatanegraraan kita, sosial, politik, ekonomi, budaya dan pendidikan adalah sektor yang butuh perombakan. Keinginan terhadap berdirinya pilar-pilar demokrasi, seperti kebebasan hak berpendapat, kebebasan pers, berserikat dan berpolitik serta persamaan warga negara dihadapan hukum adalah impinan arus besar yang harus diwujudkan.
Sehingga wajah-wajah orde baru beserta kroni-kroninya sesuatu yang sukar untuk diterima. Maka Habibie sebagai presiden pasca Soeharto kandas hanya satu setengah tahun saja. Gus Dur sebagai simbol perlawanan orde baru terpilih melalui sidang istimewa PMR sebagai presiden pasca habibie. Sosok Gus Dur sebagai presiden cukup nyentrik. Beliau sosok yang punya gaya bicara blak-blakan, apa adanya. Tapi sayang gaya bisa yang demikian belum diterima oleh rakyat. Sosoknya yang ceplas-ceplos mengundang reaksi opini publik. Apalagi Gus Dur tersandung kasus bulog gate. Walaupun pengadilan tidak bisa membuktikan. Yang jelas sosok presiden yang berbicaya jujur, blak-blakan dan apa adanya susah diterima masyarakat. Dia dijatuhkan dalam perjalanannya dalam sidang istimewa MPR.
Megawati yang saat itu sebagai wakil presiden naik menggantikan Gus Dur. Sosoknya yang pendiam dan konon sedikit bicara dan banyak bekerja menyelesaikan periode gusdur hingga selesai. Sayang megawati tidak memberikan banyak perubahan. Sumber daya alam (baca: gas) kita misalnya blok tanggung di jual dengan harga murah. Banyak sekali asset-aset BUMN yang di jual ke asing seperti indosat di jualnya dengan harga di bawah standar.
Dalam pertarungan pilpres selanjutnya sang incumbent bertekuk lutut oleh jenderal Susilo Bambang Yudoyono. Sang mantan menkopolhukam periode Megawati ini bertengger dengan angka suara mutlak. Sosoknya yang tenang, santun, mahir dalam memainkan gaya pidatonya dengan intonasi yang runut dan renyah didengar mengundang simpatik pemilih (baca: rakyat) sehingga terpilih kembali menjadi presiden kedua kalinya. SBY mutlak menang dengan angka 60% dipilih langsung oleh rakyat menjadi presiden yang cukup fenomenal.
Sebenarnya kalo dilacak dengan cukup detail sebenarnya cukup banyak perubahan yang dilakukan masa presiden SBY periode 2004-2009 banyak dibantu oleh wakilnya, Jusuf Kalla. Sosoknya yang cekatan, banyak terobosan dan punya gaya bicara yang blak-blakan dan apa adanya. Sosoknya mendapatkan tempat tersendiri dalam kultur pejabat. Dimana kultur pejabat mentabukan sesuatu yang bermodel gaya Jusuf Kalla. Jusuf Kalla adalah sebenarnya sosok pemimpin yang handal. Sebagaimana menurut Syafi’I maarif JK adalah The Real President. Tetapi sayang, sekali lagi sayang sosok yang berkata jujur dan apa adanya dengan gaya yang blak-blakan belum bisa diterima oleh rakyat Indonesia. Sehingga JK kalah telak bersaing dengan SBY di pilpres 2009. Ya, kejujuran dalam bertindak dan bersikap masih dikalahkan oleh keindahan, dan kesantunan bersikap dan bertindak. Kenapa demikian karena kejujuran tidak selalu mengenakan dan bahkan berasa pahit. Tetapi itulah kejujuran apalagi disampaikan secara blak-blakan. Berbeda dengan keindahan dan kesantunan. Sikap dan cara bertindaknya selalu menghindari terhadap suatu yang sekiranya menyebabkan pahit dan tidak mengenakan untuk didengar. Sikap-sikap demikian selalu menjauhi dan mencari jalan cari aman. Menghindari keputusan yang beresiko tinggi. Apalagi akan berdampak pada menurunya pamor dan citra dimata masyarakat. Wallau’alam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: